Connect with us

Minahasa

Fenomena Alam, Desa Touliang Kakas Diguyur Hujan Es

Dimuat

pada

KAGET: Janny Rawung salah seorang warga mengambil dokumentasi hujan es kemudian dipublisd via medsos di akun atas nama dirinya sendiri. (foto: dok)

KAKAS – Fenomena alam  berupa hujan es yang melanda Desa Touliang Kecamatan Kakas Barat sekira pukul 14.00 Wita, Minggu (14/2/2021) sempat mengagetkan warga.

Pasalnya, fenomena ini baru sekarang  terjadi di Desa Touliang. Menurut pengakuan Janny Rawung salah satu warga desa  mengatakan kalau hujan es ini terjadi saat dirinya bersama dengan Pria Kaum Bapak (PKB) di desanya sedang berkumpul untuk melaksanakan ibadah. Tiba-tiba diguyur hujan deras disertai guntur sehingga tidak banyak orang keluar rumah.

“Saat kami berkumpul disalah satu rumah milik bapak Raymon Languyu, hujan deras masih terus mengguyur wilayahnya, tiba-tiba bunyi atap lain seperti bebatuan kecil sehingga kami pun keluar guna melihat apa yang terjadi. Sontak saja, ketika menyaksikan diluar rumah ternyata di rerumputan dihalaman ada bebatuan es kecil yang belum cair,”ungkap Janny.

Lanjut ditambahkannya, kalau hujan disertai guntur sudah biasa terjadi tapi kalau hujan es yang jatuh, rasanya baru sekarang dialami warga disini dan memang kejadian itu tidak berlangsung lama.

“Hujan es tadi diperkirakan hanya berlangsung sekitar 10-15 menit pada pukul 14.00 Wita siang tadi”jelas Janny.

Senada disampaikan Kadis PMD Minahasa Jeffry Tangkulung, SH, MAP,  hujan deras disertai es di Desa Touliang memang betul terjadi, karena dirinya bertempat tinggal di Desa tersebut.

“Hujan lebat tadi sempat dirasakan warga di Desa Touliang, bahkan diseluruh Desa tetangga lainnya. Kebetulan saya lagi menghadiri acara disuatu tempat, tapi dari laporan sejumlah warga di Desanya memang sempat hujan es tapi tidak berlangsung lama,”terangnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas II Sam Ratulangi Manado  sebelumnya juga pernah menjelaskan kalau  hujan es tersebut, disebabkan oleh awan Cumulonimbus (awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan dapat terjadi Badai petir).

 “Hujan Es terjadi karena kristal-kristal es pada puncak awan Cumulonimbus yang turun ke permukaan bumi sebagai hujan tidak semuanya dapat mencair, walaupun melewati suhu yang relatif semakin hangat di dekat permukaan bumi,” ujar Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Kelas II Sam Ratulangi Manado, Carisz Kainama.

Lebih lanjut kata dia, bahwa Fenomena hujan es disertai angin kencang dapat terjadi di daerah tropis seperti Indonesia terutama pada musim peralihan kemarau ke musim penghujan.

 “Tapi untuk hujan es, memang jarang terjadi,” pungkasnya.(erwin)

Lanjut Membaca
Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan
error: Content is protected !!
×

Halo!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah ini untuk mengobrol di WhatsApp

× Hubungi Redaksi?