Connect with us

Bitung

Merasa Ditipu, Seniman Asal Yunani Acungkan Jari Tengah ke Mantan Staf Khusus MJL

Dimuat

pada

Theano seniman asal Yunani

BITUNG—Seniman asal Yunani, Theano Giannezia (29) merasa kecewa karena diduga ditipu oleh mantan staf khusus Wali Kota Bitung Max J Lomban (MJL), Satria Yanuar Akbar. 

Theano kepada sejumlah awak media, Rabu (28/04/2021), mengatakan jika Satria yang merupakan Direktur North Celebes Creative Lab (NCCL) Kota Bitung awalnya menghubungi dirinya lewat pihak Management  NCCL untuk menjadi Volunteer (Relawan, red) di NCCL dalam program Residensi. 

“Program Residensi artinya saya harus tinggal dan bekerja di Bitung bersama NCCL dengan waktu sesuai kontrak kerja. Disini saya juga bukan hanya menjadi seorang visual artist melainkan ikut terlibat dalam setiap kegitan NCCL,” ujar Theano. 

Theano mengatakan, dirinya tiba di Manado pada 02 April 2021 dan langsung ke sekretariat NCCL yang berada diwilayah Kelurahan Sagerat, Kota Bitung.

“Saya berangkat dari Jogja langsung ke Bitung. Untuk melakukan project seni rupa seperti keahlian saya. Dan oleh Organiser saya yakni, Satria menerbitkan sebuah kontrak antara saya dan NCCL untuk menindaklanjuti kerjasama dan keberadaan saya di NCCL. Dalam kontrak tersebut, dicantumkan bahwa selama saya berada di NCCL melakukan project selama sebulan. Dan akan diberikan upah sebesar Rp 3 juta untuk biaya hidup.  Sedangkan untuk tiket pesat class ekonomi dari Jogja ke Manado dan sebaliknya akan di tanggung oleh NCCL. Pun, begitu juga dengan biaya tambahan untuk pembelian material lain dalam mengerjakan proyek saya bersama dengan NCCL. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan harapan sebagaimana isi kontrak itu,” ungkapnya. 

Dengan nada kesal Theano menuturkan, jika kekecewaannya itu memuncak saat Satria terkesan menghindar dari dirinya. Padahal kata Theano, dia hanya ingin menyampaikan beberapa tuntutannya sesuai dengan isi  perjanjian kontrak mereka. 

“Saya hanya ingin berikan hak saya sesuai dengan isi dari perjanjian kontrak bersama NCCL. Namun, sampai pada 28 April 2021 tak juga diindahkan. Bahkan dengan sengaja pihak NCCL dalam hal ini Satria tak menyediakan serta menyanggupi apa yang menjadi tuntutan saya,” bebernya.

Lanjutnya, merasa bahwa Satria selaku organiser dirinya dengan NCCL telah menipunya. Dia pun membeberkan jika beberapa kali tampil sebagai pemateri di sejumlah kegiatan yang diinisiasi Satria. 

“Padahal saya hadir di NCCL bukan sebagai pemateri. Bahkan dibeberapa kesempatan Satria juga mengajak saya untuk pergi bersamanya dibeberapa kegiatan. Namun hal itu langsung saya tolak. Nah, dari sinilah saya merasa curiga karena project yang dibicarakan sebelumnya tidak sesuai,” terangnya. 

Parahnya lagi sambung Theano, apa yang di janjikan oleh Satria kepadanya akan melakukan pameran karya seni.  Tidak sama sekali dilakukan.

“Katanya akan dibuatkan pameran untuk setiap karya seni saya. Tapi tidak ada. Bahkan waktu meminta untuk mengadakan sejumlah material untuk karya seni saya, Satria tidak meresponnya. Sehingga saya berkesimpulan hal ini akan memperlambat karya saya. Apalagi waktu saya di NCCL hanya singkat,” bebernya lagi. 

Kesempatan itu juga Theano mengakatan jika pada hari Rabu, 28 April 2021 harunya dia sudah kembali ke Jogja. Namun sampai saat pukul 15:30 Wita, pihak NCCL belum juga memesan tiket pesawatnya. 

“Padahal sejak Sabtu 24 April 2021 saya telah menggingatkan kepada Satria terkait jadwal keberangkatan ke Jogja ini. Namun tidak diindahkan,” sesalnya sembari mengangkat jari tengah. 

“Pun biaya hidup saya yang harus dibayar sebesar RP 3 juta, hanya diberikan sebesar Rp 1.juta. Itupun nanti diberikan lima hari yang lalu, sementara sekitar 22 hari saya di NCCL untuk bertahan hidup saya tanggung sendiri,” pungkasnya. 

Sementara itu, Satria sendiri saat dikonfirmasi sejumlah awak media mengaku bingung dengan tuduhan Theano yang menurutnya sangat mengada-ada dan tidak sesuai dengan kenyataan.

“Kalau dibilang menipu itu apanya yang saya tipu. Malah dia (Theano,red) yang melanggar kontrak kerja tapi tidak pernah kami permasalahkan,” kata Satria, Kamis (29/04/2021).

Mantan staf khusus Pariwisata Max Lomban ini mengatakan, ada beberapa poin kontrak yang tidak dijalankan Theano. Salah satunya adalah harus ikut dalam pertemuan-petemuan dengan komunitas budaya di Sulut yakni di Langowan, Tondano dan Sangihe.

“Dia hanya ikut pertemuan di Langowan, setelah itu dia tidak mau lagi. Padahal dalam kontrak dengan kami, dia harus hadir di setiap pertemuan untuk sharing ilmu dan pengalamanan dengan komunitas budaya di Sulut. Tapi itu ditolak dengan alasan akan fokus menyelesaikan karyanya,” terangnya.

(*/Jamal Gani)

Lanjut Membaca
Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan
error: Content is protected !!
×

Halo!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah ini untuk mengobrol di WhatsApp

× Hubungi Redaksi?