Connect with us

Bitung

Pak Wali Tolong Kami!! Derita dan Jeritan Warga Pinasungkulan di Lokasi Tambang PT MSM/TTN,

Dimuat

pada

Lokasi pit tambang PT MSM/TTN yang berjarak sangat dekat dengan lokasi pemukiman warga Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu

BITUNG–Derita dan jeritan warga Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu terhadap aktivitas pertambangan PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya (MSM/TTN) kian memprihatinkan.

Betapa tidak, dentuman dan getaran yang ditimbulakan dari blasting membuat warga seakan hidup di medan pertempuran.

Pasalnya, empat pit tambang emas yakni, Alaskar di Lingkungan I, Araren, Kopra dan Balambangan di Lingkungan II dengan lokasi warga yang ada di Lingkungan I dan II, Kelurahan Pinasungkulan hanya berjarak beberapa kilo meter dan dampaknya sangat dirasakan warga sekitar.

Alhasil, ratusan Kepala Keluarga (KK) yang tinggal dan menetap di lokasi pertambangan itu setiap hari harus merasakan penderitaan akibat suara ledakan yang timbul dari aktivitas dua anak perusahaan PT Archi Indonesia tersebut.

Salah satu warga Lingkungan I, Kelurahan Pinasungkulan, Olvi Kaunang mengungkapkan, jika dirinya dan masyarakat yang ada di seputaran tambang sudah sangat tidak nyaman hidup di lokasi tersebut. Dirinya mengaku takut atas bunyi ledakan bom blasting yang setiap harinya meneror mereka.

“Hidup kami seakan di teror. Setiap harinya kami hidup dengan ketakutan. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berdoa agar bisa terbebas dari semua ini,” ujarnya, Sabtu (11/12/2021).

Olvi mengatakan, dia dan warga lainnya sudah melakukan berbagai upaya agar bisa kembali mendapatkan kehidupan yang tenang dan aman. Namun kata dia, upaya yang dilakukan sampai saat ini ternyata sia-sia.

“Kami warga sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pihak perwakilan perusahaan. Tapi hasilnya tetap nihil. Kita seperti hidup di medan pertempuran,” ungkapnya.

Novi dengan nada lantang menyuarakan jika mereka hanya memiliki dua tuntutan agar bisa hidup “merdeka” dan tak lagi “dijaja” dengan dentuman blasting dari tambang. Tuntutan ini kata dia, yakni, segera lakukan relokasi atau hentikan aktivitas tambang.

“Kami hanya minta secepatnya di relokasi. Namun ganti rugi lahan harus dengan harga yang sesuai dan wajar. Pun, lokasi tempat kita untuk direlokasi sesuai dengan harapan kita. Jika tidak bisa terpenuhi maka kami minta agar aktivitas tambang dihentikan,” pintanya.

Menurutnya, akibat dampak dari blasting banyak rumah warga yang rusak. Dia juga mengakui jika dari pihak perusahaan telah beberapa kali memberikan ganti rugi. Akan tetapi, nilainya tidak cukup untuk perbaiki kerusakan tersebut.

“Nominal ganti rugi yang diberikan tidak sebanding dengan kerusakan yang harus warga perbaiki. Juga ada biaya bising dari perusahaan sebesar Rp 400 ribu per bulan. Dan itu diberikan mulai dari Bulan Juli. Namun, di dua bulan terakhir ini sudah tidak diberikan lagi,” bebernya.

Dia juga berharap deritan dan jeritan yang saat ini mereka rasakan bisa mendapatkan perhatian dari pemimpin daerah dalam hal ini Wali Kota Bitung, Maurits Mantiri dan Wakil Wali Kota Bitung, Hengky Honandar (Maurits-Hengky) selaku pengambil kebijakan di daerah yang dipercaya mampu untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Kami hanya berharap jeritan kami bisa didengar oleh pemerintah kota Bitung dan pihak perusahaan. Kami hanya ingin pemerintah bisa mengakhiri derita yang kami rasakan saat ini. Kami hanya bisa berdoa kedua pihak ini bisa segera mendapatkan titik terang agar kita masyarakat bisa kembali hidup tenang seperti warga Bitung pada umumnya yang  tidak terganggu dengan suara ledakan dan alat berat,” pintanya.

Sementara itu, senada disampaikan Olvi. Kepala Lingkungan I Kelurahan Pinasungkulan, Wilsen Tumbel juga membeberkan jika masyarakat memang semakin menderita akibat dampak dari aktivitas pertambangan tersebut.

“Memang Kelurahan Pinasungkulan saat ini sudah tidak nyaman lagi untuk ditinggali karena aktivitas pertambangan. Beberapa kali melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan. Tapi tetap saja dampak dari aktivitas blasting tambang terus menghantui kita” terangnya.

Bahkan lanjut dia, upaya memasang papan pengumuman serta pengeras suara untuk mengingatkan masyarakat soal jadwal blasting tetap saja tidak membawa pengaruh apa-apa.

“Makanya saat ada isu relokasi, masyarakat setuju asalkan ganti rugi lahan serta lokasi sesuai dengan harapan,” ucapnya.

Dia menambahkan, selain suara blasting, aktivitas alat berat di pit Alaskar setiap malam sangat menggangu. Lalu-lalang kendaraan besar di pemukiman juga sangat mengganggu kenyamanan masyarakat.

Pun, dirinya juga memiliki harapan yang sama dengan warga agar Pemkot dan pihak perusahaan segera menemukan titik terang. Supaya kata dia, masyarakat tak lagi menderita akibat aktivitas pertambangan.

“Kami berharap secepatnya permasalahan ini bisa segera teratasi. Kami sangat bergantung pada pemerintah untuk menyudahi semua ini. Masyarakat butuh pemerintah untuk bisa hidup lebih tenang,” harapnya.

Sementara itu, Superintendent Public Relation External Relation PT MSM/TTN, Hery Inyo Rumondor saat dihubungi media ini untuk dimintai tanggapan pihak perusahaan atas jeritan dan tuntutan warga Kelurahan Pinasungkulan akibat dampak dari aktivitas pertambangan  tidak merespon.

Hingga berita ini dipublish. Pesan singkat yang berisi permintaan tanggapan dan konfirmasi yang dikirimkan tidak mendapatkan balasan.

(JamalGani)

Lanjut Membaca
Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan
error: Content is protected !!
×

Halo!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah ini untuk mengobrol di WhatsApp

× Hubungi Redaksi?