Connect with us

Kepulauan Talaud

Pengaruh Resistensi Insektisida Terhadap Upaya Penanggulangan Penyakit Aedes-Vektor (DBD) di Kabupaten Kepulauan Talaud

Dimuat

pada

Jeremia F. Apitalau (Mahasiswa Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta). //foto: istimewa.

Oleh Jeremia F. Apitalau (Mahasiswa Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta)

Kata Kunci : Penyakit Vektor, DBD, Resistensi Aedes aegypti

Vector-Borne Disease atau penyakit yang ditularkan melalui vektor invertebrata merupakan salah satu masalah Kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia dengan kasus yang tinggi.

Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan tempat yang memiliki risiko cukup tinggi dimana merupakan salah satu wilayah tropis yang mendukung pertumbuhan vector penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).

Variabel yang mendukung hal ini adalah suhu, kelembaban, angin dan kondisi spasial lainnya yang membentuk kondisi lokal harian sehingga dapat mempengaruhi sumber penyakit vektor, faktor risiko lingkungan (limbah padat yang dapat menampung air hujan).

Kasus DBD Kabupaten Kepulauan Talaud pada tahun 2020 dengan angka prevalensi mencapai 33 kasus pada golongan umur yang berbeda. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi akut dari virus yang biasanya ditandai demam disertai bentuk pendarahan atau umumnya mengalami trombositopenia.

Host alami DBD adalah manusia, agen penyakitnya adalah virus dengue yang termasuk dalam family Flaviridae dan Genus Flavivirus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dimana yang terinfeksi virus tersebut adalah (Aedes aegypti dan Ae albopictus).

Dalam pengendalian vector nyamuk, kondisi geografis tidak dapat dihindari namun kebiasaan masyarakat menjadi salah satu faktor yang berkaitan erat terhadap perkembangan dan pertumbuhan vector.

Nyamuk Ae aegypti beraktivitas pada pagi dan siang hari antara pukul 09.00 sampai 11.00 pada sore hari antara pukul 15.00 sampai pukul 17.00 hidup dan berkembang biak di dalam tempat penampungan air jernih atau di tempat penampungan air di sekitar rumah.

Perkembangbiakannya diawali dengan telur, dimana menetas menjadi larva (jentik-red) bahkan butuh waktu 1-2 hari hingga menjadi larva yang tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulu sederhana yang tersusun secara bilateral simetris.

Pertumbuhan larva ini mengalami 4 kali pergantian kulit (ecdysis-red). Yang selanjutnya akan mengalami perubahan pada bentuk pupa yang membutuhkan waktu 2-5 hari hingga berkembang menjadi nyamuk dewasa yang memiliki struktur utama caput, toraks dan abdomen.

Tempat pertumbuhannya terdiri dari:

(1). Tempat sementara yakni tempat penampungan air, misalnya limbah padat: kaleng bekas, pecahan botol, pecahan gelas, pot bunga, air dsb yang dapat menampung air sementara.

(2). Fasilitas Rumah Tangga seperti bak penampungan air bersih (reservoir dan bak).

Ae aegypti menyukai tempat yang gelap, lembab dan tersembunyi didalam rumah atau bangunan termasuk di kamar tidur, kamar mandi dan dapur sehingga jarang di temukan di luar rumah.Pemanfaatan insektisida dianggap sebagai alat yang paling efisien dalam program kontrol vektor.

Aplikasi insektisida yang bervariasi mulai dari penyemprotan aerosol, lotion, obat nyamuk bakar, pengharum pakaian, atau tirai yang menyatu dengan senyawa insektisida aktif tertentu ataupun pelaksanaan fogging massal hingga penggunaan larvasida di tempat berkembang biak vector memiliki konsekuensi bagi penggunaan kontrol vector yang berbasis insektisida besar-besaran, dimana senyawa aktif yang dapat mengakibatkan resistensi insektisida.

Dalam kasus ini untuk menekan laju penularan penyakit DBD salah satu upaya yang sering dilakukan adalah pengasapan (Fogging-red). Fogging merupakan penggunaan senyawa kimia untuk membunuh sebagian besar vektor DBD dengan cepat.

Alat yang dipakai adalah portable thermal fog machine dan ultra low volume ground sprayer mounted.Penggunaan cara Fogging memiliki kelemahan disisinya, selain penggunaan insektisida yang membutuhkan biaya tinggi, fogging dapat memicu resistensi nyamuk Ae aegypti terhadap senyawa malathion, temephos, tenthion, permethrin, profoxur, dan fenithrothion.

Empat kategori berbeda telah didefinisikan termasuk mekanisme resistensi yang didokumentasikan :

Resistensi metabolisme, karena peningkatan detoksifikasi yang disebabkan oleh perubahan over-expression atau konformasi enzim yang terlibat dalam metabolisme insektisida kimia, penyerapan, dan ekskresi. P450-monooxygenases, glutathione S-transferases, dan carboxy/kolinsterase adalah enzim utama yang terlibat dalam proses ini.

Resistensi Target-site, disebabkan oleh modifikasi site insektisida kimia, tindakan mengurangi atau mencegah pengikatan insektisida di situs itu. Mutasi pada gen saluran (Vssc) adalah salah satu penyebab paling umum dari ketahanan lokasi target.Pengurangan Penetrasi, karena modifikasi pada kutikula serangga atau lapisan saluran pencernaan yang membatasi penyerapan insektisida kimia.

Resistensi melalui perilaku, mencakup modifikasi dalam perilaku serangga yang membantu menghindari efek toksik insektisida kimia dimana sebagai faktor penyumbang yang memungkinkan serangga untuk menghindari dosis insektisida yang mematikan Resistensi insektisida di Ae. aegypti terutama dikaitkan dengan ekspresi berlebihan enzim detoksifikasi (metabolic-based resistance) atau mutasi dalam urutan protein target yang menginduksi insensitivity terhadap insektisida (target-site resistance).

Mekanisme ketahanan utama Ae aegypti melibatkan substitusi asam amino dalam voltage gated sodium channel (VGSC) yang menyebabkan resistensi terhadap insektisida DDT/piretroid yang dikenal sebagai resistensi knockdown (kdr).

Mutasi V1016G menyebabkan ketahanan terhadap permetrin dan deltamethrin, sementara mutasi F1534C resistensi hanya untuk permetrin. Mutasi S989P menyebabkan tidak ada atau sangat sedikit resistensi terhadap piretroid. Namun, tingkat resistensi piretroid yang sangat tinggi telah dilaporkan dengan individu yang membawa dua (S989P + V1016G) atau tiga mutasi (S989P + V1016G + F1534C).

Melalui penjelasan diatas dapat disimpulkan penanggulangan vector DBD dengan penggunaan insektisida ataupun penanganan kimiawi memiliki risiko yang besar terhadap adaptasi resistensi vector melalui mutase gen.

Penggunaan dalam jangka waktu lama memungkinkan biaya yang tinggi, adapun hanya dapat mengentikan perkembangbiakan dalam waktu sementara sehingga penyebaran penyakit akan tetap berlangsung disisi lain berisiko membawa bahaya kesehatan terhadap manusia yang terpapar secara inhalasi.

Cara penanggulangan vektor DBD yang ideal adalah secara biologis dengan menghentikan proses metamorphosis nyamuk Ae. Aegypti pada saat dalam tahap telur dan larva.

Kebersihan lingkungan menjadi faktor penting dalam pelaksanaan metode ini dengan menghilangkan wadah ataupun limbah padat yang dapat menampung air secara sementara. Pada tempat penampungan air permanen dibutuhkan penggunaan monitoring secara terus menerus ataupun dengan penggunaan biolarvasida dimana terjangkau dan mudah diproduksi.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud disarankan untuk mengeksporasi berbagai tanaman tertentu yang memiliki potensi sebagai insektisida alami melalui beberapa riset ekstraksi metabolit sekunder untuk anti-larva. (tni)

Lanjut Membaca
Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan
error: Content is protected !!
×

Halo!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah ini untuk mengobrol di WhatsApp

× Hubungi Redaksi?