Connect with us

Tomohon

Selebrasi Paskah Pemuda GMIM Berujung ‘Kutukan’, Maknai Paskah Itu Dengan Kata Kasih Bukan Kutuk

Dimuat

pada

Situasi selebrasi Paskah Pemuda GMIM di depan Kantor Sinode GMIM, Kota Tomohon. Senin, (18/4/2022)

TOMOHON – Selebrasi berujung ‘kutukan’, pasalnya? Dalam perayaan Selebrasi Paskah dan HUT ke-96 Pemuda Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Senin, (18/4/2022), di Kota Tomohon penuh dengan pro kontra.


Salah satu pernyataan yang dilontarkan dari staff khusus Gubernur Sulut Ruben Saerang agar aparat kepolisian menangkap sejumlah Pemuda GMIM yang merusak pagar kantor Sinode GMIM. “Terus terang kami sangat menyesalkan kejadian ini. BPMS GMIM harus bertindak dan polisi diharapkan segera menangkap pelaku agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” tegas Ruben.
Dan salah satu pernyataan di media menjadi sorotan publik yang disampaikan Ketua Komisi P/KB Wilayah Mapanget Satu Pnt. Joseph Kopalit, mengutuk keras tindakan tidak terpuji oleh sekelompok orang yang diduga telah melakukan pengrusakan di depan Kantor Sinode GMIM.
Dari pernyataan-pernyataan ini sejumlah aktivis pemuda GMIM menanggapinya. Aldo Pajow mengatakan, jika ada pihak yang langsung menuduh atau mengatakan bahwa ada dalang pada pengerusakan pagar itu sangat prematur pemikirannya. “Kerusakan itu terjadi bukan disengajakan dari teman-teman pemuda, tetapi itu spontanitas dari teman-teman yang begitu bersemangat merayakan hari besar Paskah dan HUT Pemuda GMIM ke 96 sampai tidak disengaja terinjak tulisan yang ada disitu. Jadi saya juga melihat seorang yang langsung membuat opini ke publik itu sangat sangat ngawur,” ucapnya saat diwawancarai Xmanadonew.co.id. Senin, (18/4/2022)
Lanjutnya, Dewasalah untuk memberikan komentar jangan bicara main tanggaplah atau sejenisnya. “Jadi sebenarnya bahasa tangkap itu sangat tidak mencerminkan seorang senior pemuda, harusnya beliau itu bilang dibina kembali para pemuda-pemuda itu bukan main bilang tangkap, lucu juga kalau hanya bisa berkomentar tetapi tidak ada dilokasi,” jelasnya.
Ditambahkan salah satu pemuda yang mengikuti Selebrasi Paskah Pemuda GMIM Injilia Tarore, kita mengikuti perayaan selebrasi ini hanya setahun sekali, namun dalam dua tahun belakangan ditiadakan karena situasi yang membuat tidak ada selebrasi seperti ini. “Seorang Penatua itu tidak bisa menjadi teladan dan sepertinya hanya ‘prong’ (formalitas) diberikan gelar Penatua. Sangat tidak bisa menjadi seorang pelayan dengan bahasa kutukan, padahal kalau dia baca Alkitab itu disitu sudah mengajarkan jangan mengutuk tetapi parah kalau seorang penatua mulutnya seperti itu, bagaimana ya khotbah yang dia sampaikan dalam ibadah tidak sesuai apa yang dia ucapkan ini. Marilah semua merayakan hari kemenagan kita yang sudah dibayar lunas oleh Kristus lewat kematian dan kebangkitan Nya. Hindari saling menghakimi tetapi kata kasih yang harus diucapkan,” tandas Injil. (lol)

Lanjut Membaca
Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Iklan
×

Halo!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah ini untuk mengobrol di WhatsApp

× Hubungi Redaksi?