Connect with us

Minahasa

Tumbuhan Stevia dari Paraguay Pengganti Tebu Ditanam di Minahasa

Dimuat

pada

Chief Executive Officer PT BKS Oktavianus Minanga bersama Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan antar lembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Samsul Widodo saat memantau tumbuhan Stevia di lahan ex pacuan kuda Kakas Barat.

MINAHASA – Tumbuhan Stevia asal Paraguay Amerika Latin ternyata dapat tumbuh subur di Kabupaten Minahasa. Pasalnya, PT Bejana Kasih Sempurna ( BKS) telah mencoba menanamnya di Perkebunan ex Pacuan Kuda Desa Tountimomor Kecamatan Kakas Barat, Minggu (22/6/2021).

Dengan ditanamnya tumbuhan Stevia di perkebunan Kecamatan Kakas Barat ini, kemungkinan para petani diwilayah tersebut akan makmur apalagi harga jualnya tergolong mahal.

Tumbuhan ini, diyakini bisa menganti tumbuhan tebu sebagai bahan komoditi penghasil gula. Perlu diketahui tumbuhan Stevia ditanam pada awal tahun 2021 dengan luas lahan kurang lebih satu hektar.

Menurut Oktavainus Minanga Chief Executive Officer PT BKS mengatakan, bahwa tumbuhan dengan 167 spesies ini tumbuh subur di Perkebunan Desa Tountimomor karena suplay air dari kandungan tanah sangat menunjang.

“Kita memilih Kakas barat, karena hasil penelitian infrastrukturnya sangat mendukung. Pertama, air ada di lahan tersebut sangat mendukung, kemudian luas pengembangan kurang lebih 1000 hektar ada di sini,”katanya.

Lanjutnya juga, pihak BKS sendiri bakal mempekerjakan warga di Kecamatan Kakas barat untuk membudidayakan tumbuhan ini, bahkan akan menggandeng kelompok tani, juga Bumdes di Sepuluh Desa se Kecamatan Kakas Barat, yakni Desa Tountimomor, Passo, Panasen, Totolan, Kalawiran, Wasian, Touliang. Simbel, Wailang sampai Desa Bukit Tinggi.

“Kita tidak jauh-jauh mencari pekerja, tinggal ajak masyarakat di sini untuk mengolah tanaman Stevia tersebut. Ini konsep PT BKS yang tidak membuat perkebunan secara eksklusif, tetapi menggandeng masyarakat maupun petani, kelompok tani dan lembaga – lembaga seperti Bumdes,”jelasnya seraya menambahkan tumbuhan Sevia ini, petani tinggal menanam karena dari segi benih maupun obat-obatan serta pupuk yang dipakai disediakan pihak PT BKS.

Lanjutnya, khasiat yang terkandung dalam tumbuhan herbal pengganti gula rendah kalori tersebut dikarenakan gula pada umumnya dihasilkan dari sari tebu yang mulai berkurang produksinya.

“ Stevia juga bisa masuk industri food and baverage makanan dan minuman, kue, roti, eskrim dan lain-lain. Kemudian bisa untuk kesehatan, misalnya mengontrol diabetes. Selain itu, bisa juga untuk industri kecantikan baik perawatan kulit wajah juga untuk organ vital wanita, dan membantu penurunan kalori dalam tubuh,”ungkap Okta.

Untuk omset yang bisa dihasilkan dari budidaya tanaman stevia ini, satu kali ditanam bisa berproduksi selama enam tahun dengan masa panen selama 35 sampai 40 hari dapat menghasilkan empat ton kering per hektar dan diuangkan mencapai harga 56 juta rupiah. Sementara untuk setahun dapat dipanen sebanyak delapan kali, dengan total capaian harga 448 juta rupiah.

“Tanaman ini diharapkan dikelolah dengan baik, karena dalam perawatan tanaman stevia ini harus teliti mulai dari pembenihan, penaman di area yang siap ditanami sampai pada pemupukan dimana pupuk yang digunakan murni pupuk organik, lebih baik dari kotoran ayam, “imbuhnya.

Terkait penanaman secara besar-besaran, pihak PT BKS sendiri menargetkan pada awal tahun 2022 mendatang.

” Rencana penanan besar-besaran tahun 2022 nanti dengan luasan 500 hektar. Karena kita juga menunggu benih yang nanti dikirim dari Korea Selatan, berharap tahun 2023 sudah berdirinya pabrik,”jelas Okta.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan antar lembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Samsul Widodo, mengatakan ini adalah peluang kerja sama yang sangat baik dan menjanjikan, sayang untuk dilewati

“Kami hadir memberi contoh konkrit peluang bisnis, dan PT BKS ini hadir dengan tanaman Stevia mereka yang baik untuk kesehatan dan mereka berani kontrak dengan Bumdes untuk mengkonsolidasi lahan-lahan. Memang kami tidak bisa mengatakan harus, tetapi ingin Bumdes terbuka pikirannya mengenai peluang bisnis tersebut namun kami minta pihak PMD dan Pendamping Desa diskusikan lagi lebih detail. Diskusi ditail itu konteksnya adalah bisnis, kalau bisnisnya cocok silahkan dijalani,”tandasnya.

Hukum Tua Desa Tountimomor Erni Kaseger, optimisi kehadiran PT BKS dengan tumbuhan Stevia ini akan membawa angin segar bagi warga se Kecamatan Kakas Barat.

“Kami bersyukur karena tanaman ini akan menyediakan lapangan kerja, apalagi lagi dari kementerian desa saat ini langsung meninjau langsung lokasinya. Bahkan dari luar negeri yakni Korea Selatan, telah datang melihat pertumbuhan tanaman stevia dan ternyata di Kabupaten Minahasa lebih khusus Kakas Barat pertumbuhannya sangat baik dan kedepan bakal dikembangkan. Selaku pemerintah desa saya sangat mengharapkan bantuan dari atasan baik Pak Gubernur dan pak Wakil Gubernur, pak Bupati serta pak Wakil Bupati agar tanaman ini dapat dikembangkan di Minahasa,”bebernya. (Erwien Bojoh)

Lanjut Membaca
Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan
error: Content is protected !!
×

Halo!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah ini untuk mengobrol di WhatsApp

× Hubungi Redaksi?